Kata menjadi penghibur lidah yang kelu, menjadi benang pada jarum bernama bahasa, sebentuk aliran dari perasaan...

Senin, 24 Januari 2011

Bertahan Di Sini

Aku memanggil sang waktu, memintalnya menjadi benang kehidupan, memajangnya menjadi hiasan perjalanan. Kubuka kotak ceritaku, terkumpul padanya bayangan sang pangeran. Merakit potongan - potongan kejadian, melantunkan nada - nada perasaan.

Bersama sisa penggalan waktu yang belum terpintal, kuukur panjangnya waktu terulur sejak kupatrikan nama sang pangeran, dalam, pada hati yang sebelumnya penuh luka. Panjang.

Bersama piringan hitam hati yang pernah bernyanyi, kuputar alunan - alunan melodi saat raga ada di sampingmu. Segenggam tawamu, sekotak tatapmu, secangkir suaramu. Yang selalu menemaniku dalam sendu senja. Yang membalut hatiku akan rasa, menguatkanku.

Bersama detik - detik yang pernah berlalu, kukecup jutaan rasa yang berbaur bersama tawa, senyuman, cemas, serta tetes air dari mata bulatku, Itulah pelangi ciptaanmu di hatiku.

Bersama sepoi angin kenyataan, aku terbawa arus perasaan. Telah kuketuk pintu hatimu. Taukah kau? Senyum terkembang saat kau bukakan pintu itu sedikit saja olehmu dan kau sambut dengan senyum lembutmu. Senyumku yang menghilang secepat ia terkembang, saat kutatap seseorang telah berdiri di dalam sana. Seseorang yang telah kau masukkan ke dalam hatimu.
Tersadar, kukembangkan kembali senyumanku, meski tak selebar sebelumnya. Karena aku suka senyumanmu, saat kau sambut aku di teras hatimu.

Aku bertahan di sini, di teras hatimu, menyanyikan senandung untukmu, yang kau balas dengan senyum indahmu, karena aku suka senyum lembutmu itu.

Aku bertahan di sini, menatap dari jendela hatimu, kamu yang sedang bersamanya, duduk nyaman bersama dalam kehangatan hatimu.

Aku bertahan di sini, di teras hatimu, karena senyum indahmu, karena aku sahabatmu.....

1 komentar:

  1. TILANG SAJA AKU



    mungkin suatu siang kau akan menilang;

    kepalaku yang penuh berisi engkau

    yang melaju, abai pada rambu-rambu.



    kupatahkan aturan

    bersebab aku cuma patuh pada

    apa yang tak pernah kau miliki

    : papan keberanian





    tidakkah kau mulai curiga,

    dimana kusembunyikan surat iijin mengemudi?



    kuselipkan di jarak, yang melipatku

    seperti kertas warna biru,

    yang pernah memaafkanmu sebagai alamat,

    keliru kutulis dibawah persis kata -dengan hormat-





    pasal mana yang akan engkau jatuhkan,

    untuk kepalaku yang lama lupa mengenakan

    : sebulat rasa aman





    beranikah engkau, sayang?


    salam sastra, ^__^

    BalasHapus