Kuendapkan rasa bersama rintih hujan perlahan,,
kubiarkan jiwa terbawa dan terpedaya oleh gelap
bersama alunan rintik hujan di malam temaram...
biar saja...
Dalam terombang ambing, aku terlelap...
seketika hentakan peringatan menarikku, kembali menuju damai
lagi, kubiarkan hati dan rasa mengalir, begiu saja
biar saja...
Rasa yang mengalir, damai yang merasuki perlahan
kurasakan saja,,
biar saja...
Ah, kau terselip lincah, menyeruak hatiku
satu sapaan, satu pertanyaan, berlanjut menjadi perbincangan..
biar saja...
Apa ini?? Berhenti!
jangan kau panggil lagi sepenggal rasa yang lama tertidur
terasing jauh dari peradaban, yang dibiarkan membusuk,, tapi tidak tergores sedikitpun..
Aku bilang berhenti!
Ah, kenapa??
Torehan luka yang mengering perlahan kau sayat dengan sapamu, dengan luapan sayangmu,, padanya, bukan padaku...
perih... masih...
ah... biar saja...
Tapi,, kenapa kau tidak berhenti??
Kau membuatku rapuh...
Seolah menikmati sayatan dan goresan luka yang perlahan akan membunuhku..
yang meneriakkan namamu untuk tidak meninggalkanku
untuk tidak pergi dan membiarkan luka ini mengering, dan sembuh...
biar saja..?
Apa itu???
Setelah kau biarkan darahku mengalir bersama perih,,
kau berikan aku obat penawar perih, penawar segala macam rasa,, anasthesi...
yang menerbangkanku, sekaligus menghancurkanku..
Haruskah kubiarkan? Biar saja...?
Kumohon,,,, berhentilah..
Aku lemah padamu, jiwaku redup di hadapanmu...
Ya,, kurelakan semua, apapun, untukmu..
Perih, luka, kecewa, pengharapan semu...
Ya, karena itu adalah kamu, aku hanya bisa berkata,,
biar saja...