Tersungut - sungut aku melangkah.. Kusapa bintang yang tengah menaungiku dalam malam indah ini. Wahai bintang, bantu aku... Aku ingin melihat dan menyapa pangeran..
Semakin aku melangkah, tubuhku memanas, getaran di sekujur tubuhku menguat. Hatiku melambung. Kupandang kitab milik seorang temanku. Beruntung, aku mememiliki teman yang bekerja di kerajaan. Sungguh beruntungnya dia, menyokong pangeran dalam pertunjukkan yang akan di adakan saat festival nanti. Dan saat ini aku ke tempat ini bukan untuk pangeran, sama sekali bukan. Aku ingin menyerahkan kitab ini, milik temanku itu. Tapi tetap saja. hatiku terbakar. Saat aku tau, ada kesempatan untukku bertemu pangeran... Di saat para anggota kerajaan tengah sibuk menyiapkan festival kerajaan. Di saat pangeran tak sempat lagi mengunjungi desa..
Ah, pangeran... Aku tau, mungkin aku memang sama sekali tidak sepadan dan tidak cocok untuknya. Aku juga tidak pernah berani mengkhayalkan menjadi pendamping hidup pangeran. Aku tau, aku sadar. Aku hanyalah rakyat biasa, yang memujanya, pangeran.. Dengan senyum riangnya pada semua, dengan keramahannya, dan kebaikan hatinya. Jantungku pun tak pernah berhenti berdetak kencang saat aku berada di dekatnya. dekat? Apakah jarak 20 meter bisa dibilang dekat? Karena saat ini wajahku memanas, tubuhku ikut berdetak.. aku tau pangeran di sana, di panggung itu yang berjarak sekitar 20 meter dari tempatku berada.
Dengan lega aku menyapa temanku. Lega? Apakah saat tubuhku memanas, wajahku merona, dan bulir keringat perlahan menetes ini bisa menjadi tanda - tanda kelegaan? Aku menyapa temanku, memberikan kitab miliknya. Ia mengajakku masuk dan menonton latihan pagelaran yang akan mereka lakukan. Waw, sungguh tawaran yang luar biasa. Ingin aku masuk dan menatapnya selama yang aku bisa. Menatapnya bergerak lincah dan indah. Ah, bahagianya...
Tapi ada yang menggenggam kedua kakiku. Ada yang menenggelamkanku. Kucari kembali sosok pangeran, ah. Jantungku berhenti berdetak. Lidahku seakan mencari perlindungan saat ia berkata, "Ah, gak usah deh aku pulang dulu, sudah malam, Daaagh!"
Tak ada lagi yang menggenggam kedua kakiku, tak ada lagi yang menenggelamkan tubuhku di tanah itu. Aku terlempar. Aku diterbangkan. Secepat kilat aku berlari, menjauhi sosok pangeran. Menjauhi sumber dari semua kesesakkan ini. Tubuhku butuh udara, sesuatu yang susah kudapatkan di saat aku berada di dekatnya, pangeran..
Ah.. Saat tersadar, aku tengah berjalan sendiri di bawah terpaan bintang. Mereka seakan menertawakan ke"pengecut'an ku.. Aku pun tak tau. Kemana perginya semua keberanianku? Masih bisa kurasakan degub jantungku, saat aku membawa semua bayangan pangeran tadi ke dalam kepalaku. Aku, aku sangat memujanya, membuatku susah untuk bernafas, dan,,, Lari..
Ya, melarikan diri dari rasa yang meluap-luap yang tak bisa kutanggung lagi. Menyedihkan sekali. Dan aku terus berjalan pulang, dihibur oleh nyanyian jangkrik sepanjang perjalananku. Ah, indahnya suara mereka.
Aku sampai di gubukku. Masih dapat kuingat wajah pangeran saat itu, masih dapat kurasa degup dan panasnya wajahku saat itu. Tapi, aku pun masih dapat mengingat alunan nyanyian jangkrik yang menenangkanku.
Ah, sudahlah.. Terimakasih jangkrik, yang telah menenangkanku. Pangeranku, selamat malam..
Dan kusudahi malamku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar