Kata menjadi penghibur lidah yang kelu, menjadi benang pada jarum bernama bahasa, sebentuk aliran dari perasaan...

Sabtu, 24 Juli 2010

Dua Butir Permata Kesepian

Saat sapa senja tertumpah dalam keremangan cahaya,
Bersama langkah kau mulai merajut batasbatas
merangkai jarak yang perlahan mulai menelan beribu butiran sekat, membesar..
Kutesteskan dua titik bulir permata milik kedua mataku , dua butir permata kesepian..
Tersengal lidah memoles kata, memanggilmu..
Tiada balas sapa, hanya dengusan tiupan cahaya lemah kelembutan
Kau tiupkan pada dua butir permata kesepian milikku yang perlahan menyala
Menyebarkan redup cahaya berbayang, melukiskan penantian...
Kutitipkan mereka di ujung tangkai putih melumer yang terkejar waktu
Tangkaitangkai sebagai tanda waktu kepulanganmu
Kurebahkan bersama balutan kasih yang merekah merah
Menemaniku, dalam tatap cahaya senja yang kau bawa pergi
Bersama remang cahayamu yang terus menyala kau terus melangkah
Bersama tatapku disini, dalam bayangbayang pendar permata kesepian yang kau nyalakan
Menantimu
Menanti kupulanganmu
Dari negeri itu...



*Melangkahlah bersama terangmu, dalam doaku...
Lalu pulanglah dengan cahaya yang lebih terang, dan benderang...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar