Sabtu, 26 Juni 2010
Aku Aku terduduk lemah. Mentari tak lagi menyapa riang seperti sedia kala. Seakan ikut merasa. Lemahku. Sakitku. Aku merasa lemah. Kemarin, beberapa teman mengunjungi gubukku, membawakan sekantung doa untuk kesembuhanku. Aku bahagia. Tapi tubuhku tetap melemah. Tabib pun belum bisa memastikan kapan kesembuhanku. Biar saja. Ya, kubiarkan saja.
Saat aku tengah bermain dengan udara hampa, kudengar keributan kecil di depan pintu. ah, ternyata mereka. kembali membawakan sekantung doa untukku. tidak hanya itu, mereka juga membawakanku bibit tanam, untukku bekerja.. Uuugh.. harus ya? Mereka mengingatkanku akan kebunku yang sudah lama tak terusrus. Biar saja. Ya, biarlah.. :)
"Hei, nanti the witch akan datang bersama pangeran" Jantungku melemah setelah sekali pukulan tajam. Pangeran?? Bersama temanku, sang penyihir hitam istana.. Ohh.. Sudah lama aku tak melihat wajah pangeran, tak mendengar suaranya.. Sejak musim kemarau tiba, aku terlalu letih berkebun di tengah teriknya tatapan mentari. Aku yang terlalu lelah, tak pernah sekalipun berjalan berkeliling maupun memandang sekeliling semata.. Hingga saat ini.. Sampai aku terduduk lemah tak berdaya..
Tapi lihatlah! Pangeran akan datang! Sekantung doa dari mereka bersama kepedulian milik pangeran, merenggut sakitku sedikit, menyelimutiku dengan bahagia yang menyejukkan.
Bersama canda waktu berlenggang pergi, memaksa mereka untuk pergi juga. Meninggalkanku sendiri lagi. Bukan kesendirian yang melemahkan. Tapi sendiri dalam penantian penuh harap. Entah mengapa jantungku yang semulai terkulai, berdentum tidak karuan. Hanya membayangkan. Ya, cukup membayangkan sesosok pangeran pujaan yang akan datang.
Detik dan detak. Aku termangu, hingga sebuah pintu berderak mengguncang dan menggetarkan hatiku..
Ah, itu adalah pangeran.. Bersama the witch yang memandangiku penuh makna dan menggoda. The witch, sahabatku yang tau betul perasaanku pada pangeran.
"Hai, wajahmu lucu,, seperti hewan penjaga istana.. hahaha!" Ugh.. Pangeran masih seperti itu. Tawanya, candanya.. Aku merengut penuh bahagia... Bertiga kami menjalin canda bersama. Sakitku kembali direnggut oleh kedatangannya, sakitku berteriak ingin berlari, takut akan luapan bahagia yang berlimpah di hatiku.
Wajahku merekah, tawaku mengudara... Bahagiaku mengalir dalam pondok sunyi yang kini berbunga...
Sampai dentang Istana menggelegar. Pertanda waktu pangeran kembali..
Ah,, jangan pergi...
"Yah,, aku harus pergi sekarang. Kau tak perlu memikirkan kebunmu, pikirkan kesehatanmu.. Lekas sembuh" ucapnya lembut sembari memberiku secangkir senyum ketulusan dan sebuah tatap menguatkan.
Pangeran pun pergi, meninggalkan aku yang berbalut senyum yang terus merekah.
The witch menatapku dan memberiku senyum menggoda, dan berbisik padaku:
"Taukah kau? Pangeran pernah bilang padaku, kelak kau pasti bisa menjadi istri yang baik!" Dengan kerlipan mata the witch yang penuh makna, ia menyusul pangeran menuju istana. Meninggalkanku, setelah memberiku setumpuk rekahan batu merah muda besar, di hatiku yang terhimpit bahagia..
Ah, malam ini aku kembali sendiri.Bersama sakitku yang benar-benar berlari ngeri menatap senyum sumringahku. Mataku tak terpejam. Bayang-bayang wajahnya, senyumnya, tawanya.. Juga bisikan the witch yang berasa membahana dalam anganku...
Ah, entah kapan aku terlelap menuju bahagia.. tapi kuyakin pasti, esok aku bisa kembali bekerja... <3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar