Kata menjadi penghibur lidah yang kelu, menjadi benang pada jarum bernama bahasa, sebentuk aliran dari perasaan...

Rabu, 10 Maret 2010

Kau Curang, Malam...



tenang...
saat badai tak lagi menari dalam nyanyian sang hujan
saat sambaran kilat tak lagi meramaikan pekik deru sang guntur
saat hitam tak lagi menjadi selubung langit senja
karena senja telah menjadi malam...
Malam,,,
seolah bertukar peran dengan sang senja yang selalu menampakkan gemulai tariannya dalam alunan jingga
karena malam menghapus sang badai yang berjoget riang bersama hujan senja
karena malam meniup hitam yang bergantung dalam langit senja
karena malam mulai menampakkan kelip cahanya menggantikan gelapnya senja
aahh...
masih kurasakan kemarin
saat senja dan malam terus merintih
saar senja dan malam beradu kasih dengan kelam dan dingin
saat senja dan malam menyanyikan lagu pilu bersama glegar sang guntur dan pekikan sang hujan..
Saat hatiku ikut menangis bersama mereka akibat sesal tak beralasan
tapi sekarang...
malam tak lagi bersedih
walau senja tadi masih menangis pilu...
CURANG
kau curang malam
karena hanya kau yang bersinar bersama kelip sang bintang dan sapaan rembulan
tidak menyambut dan meneruskan pekikan tangis sang senja
meninggalkan aku sendiri yang tetap berkubang dalam tangis tak beralasan
meninggalkan aku yang tenggelam dalam deras hujan dan glegar petir di hatiku...
tangis ini masih bersisa...
walau kau hanya membalasnya dengan gerimis perlahan yang sempat menyembunyikan kelip bintang yang semula kau perlihatkan...
jangan tingalkan aku malam...
sendirian dalam lolongan hujan di hatiku...

7 komentar:

  1. permainan kata yang tak bisa kulakonkan
    begitu mudahnya kau lakonkan
    kata-kata yang tersembunyi di baliknya
    menyiratkan beribu makna
    beribu makna yang menjadi satu makna
    satu makna berarti


    well, i love this poem ^^

    BalasHapus
  2. bagiku kata adalah sahabat
    saat lisan tiada terucap
    saat bahasa bukanlah pengungkap
    saat jiwa hanya mampu menari dan melebur ke dalam buliran kata yang mengalir di atas langit duniaku...

    terimaksih Lita.. :)

    BalasHapus
  3. andaikan aku adalah orang lain
    dan orang lain adalah aku
    saat itu, aku menjadi dirinya,
    dirinya menjadi aku
    tapi,
    cukuplah aku untuk diriku
    dirinya untuk dirinya
    ya, andaikan aku bisa
    tak cukuplah dayaku untuk itu


    kamu cocok jadi ahli puisi, vee ^^

    BalasHapus
  4. putih terlukis karena hitam
    terang tercerna dari sang gelap
    malam pun tercipta oleh siang
    dan mampu pun ada dari tiada...

    ahli puisi? hehe.. amin deh, :D
    aku jg masih belajar kok.
    puisi yang awalnya jadi penyalur uneg2, tapi lama2 jadi suka dan pengen lebih bisa.. :)
    kita sama2 belajar ya Lita.. hehe

    BalasHapus
  5. kata demi kata kau rangkai
    membentuk barisan indah yang bermakna
    tiada seorang pun tahu
    hanya kau
    pada akhirnya,
    kata itu membentuk sebuah cerita
    ceritamukah?
    ceritanyakah?
    ya, itu hanya kau yang tau
    hal yang kupinta,
    bentuklah lembaran nyata dari kisahmu
    dan kibarkanlah
    agar semuanya tahu
    bahwa itu adalah kau
    dan kata itu adalah ucapmu


    vee, aku gak ngerti puisimu yang ini. T.T

    BalasHapus
  6. hehe..
    aku cma pengen nyampein mampu/ kemampuan dalam melakukan sesuatu itu berawal dari ketidakmampuan juga (tiada),, jd kita pasti bisa klo kita mencoba dan belajar lagi.. :D

    BalasHapus