kuhisap dalam aroma pagi yang menggoda, kurasa damai menyusup relung jiwa...
kubuka mata menatap dunia, menenun langkah hari yang baru dibuka...
Aku pun berjalan menuju peraduan dunia, tempatku memenuhi dahaga. Dalam langkah pasti kurasa lezat menjilat tatap, saat pangeran berkuda hitam tampak berburu di seberang hutan. Aku berlalu melawan pesona riang pangerang yang mengusikku. Lalu,,
Dengusan keras menyembur lembut sebilah wajahku, kuangkat wajah ini, dan ah.. dengusan kuda hitam, dengan pangeran yang melambai menawarkan senyum di atasnya. Kubawa tawarannya, menggantinya dengan senyum sesaat yang dibalut derap kecilku untuk pergi. Ya, pergi.. Karena aku tak bisa mengambil lebih. Karena ku tak kuasa menangkap suara merdunya. aku belum siap, aku belum mampu.. Aku benar2 berlalu..
Kuteguk demi teguk buliran ilmu yang memenuhi dahaga. bersama riang celoteh para sahabat. Kembung mulai meraja, tapi ku tak rela. Dahagaku belum usai, kebutuhanku belum sampai. kuteguk lagi dan lagi. sampai perutku sakit.. Aku melemah.. Sampai kabar itu..
Seorang sahabat meneriakkan nama pangeran. Entah apa yang terjadi padaku, derap kaki, mata yang siaga, bersama satu rasa. Rindu.. Aku merindukan pangeran berkuda hitam itu, yang tak disangka menawarkan lambaian senyum di permulaan hariku, tadi. Aku berlari dan terhenti. Menatap sang pangeran yang tengah berdiri membelai sang kuda hitam. Ah, indahnya.. Aku ingin berada di atas kuda itu, bersamanya.. Anganku melayang, sampai aku bersuara..
"Pangerang sedang apa?" ah, aku terkejut pada kekuatanku.. kata demi kata kami alunkan bersama, perlahan, dengan detak jantungku yang menderu.. Ah, aku berani bersumpah aku sempat tak bernafas, saat melihat tawa lebarnya, senyum tulus yang memancarkan kegelian itu.. Aku merindukannya, sangat..
Tiupan terompet kerajaan dikumandangkan, sang prajurit sedang mencari pangeran.. Aku mendengar derap langkah mereka, menuju kami. Dan kulihat pangeran kembali menampakkan wajah bijaksanany.. ya, ini saatnya bagiku untuk pergi.. Aku berlalu, dimana seharusnya aku berada.. Menyesap butiran ilmu, menghapus dahaga yang masih harus dibenahi.. Perlahan, aku melangkah meninggalkan pangeran...
Waktu berjalan tanpa kompromi. bersama teguk, anganku menerawang, pada wajah itu, pada tawa itu, pangeran.. Kulihat mentari yang mulai condong ke barat.. Saatnya kembali ke peraduan.. Aku melangkah menuju tempat penghilang lelah..Kutatap istana yang menjulang, masih dapat kulihat pangeran disana. di atas kuda hitamnya, bersama para prajuritnya.. Ingin ku melambai padanya, tapi pangeran sedang berdiskusi serius dengan para prajurit.. Dan lagi, aku harus berlalu..
Di desa, kurebahkan tubuh dalam gubuk kecilku yang nyaman. Masih kusesap tetes demi tetes ilmu, memenuhi akhir dahagaku. Merasa bosan, aku berjalan keluar, hendak menikmati pemandangan bintang yang menggantung di lukisan Tuhan dalam langit desaku.. Saat ku menari bersama bintang, kumelihatnya. Pangeran.. Berjalan tanpa kuda hitam, bersama beberapa penduduk desa, tertawa.. Indahnya..
Kuberanikan diri melangkah, menyapanya.. Ah,, dia tersenyum. tapi Pangeran tetap melangkah, bersama penduduk desa. aku ingin menemaninya, terus, sampai pagi menjelang.. Tapi tubuh ini sudah lelah.. Sudah waktunya kututup hari.. Sudah saatnya kubekukan diri, sebelum memerangi esok yang penuh perjuangan..
Kuputuskan untuk meninggalkannya.. Dia, Pangeran, yang ternyata tidak menyadari aku yang terhenti. Tidak mempedulikan sapaanku yang mengambang.. hanya membalas sekenanya..
Ah ya, aku tau..
Dia adalah panngeran, dan aku rakyat jelata.. Mataku terbuka di ujung hariku..
Dan aku pun menutup hariku, malam ini..