Kutatap lekat sang naga, mengibaskan sayapnya yang perkasa, mendenguskan gumpalan asap panas dari hidungnya. Selalu. Selalu disana. Menjagaku. Ah, tidak. Mengurungku..
Kuberjalan melangkah keluar, satusatunya tempat aku bisa melihat bintang. Balkoni. Aku lebih beruntung dari putri berambut panjang yang dikurung di menara tinggi. Setidaknya, sang penyihir masih memberiku balkoni yang luas, tempatku memuja lautan bintang. Selain itu, naga selalu menatapku, mengusir lalatlalat kesepian dengan hembusan panas miliknya. Ya, aku lebih beruntung, mungkin..
Kuraba lembut sisi tepian balkoni. Sebuah batas. Ya, batas. karena ku tak pernah mampu melaluinya. Menara ini begitu tinggi. Terbentang di jurang tempat benua bercumbu mesra dengan samudra. Indah. Saat bintang yang kupuja tampak menyatu dengan samudra. Penyihir begitu baik memberiku pemandangan yang indah. Tidak seperti putri berambut panjang itu, yang dikurung di tengahtengah hutan temaram.
Seperti sebelumnya, kuisi kehampaan menatap gelap di depan, yang berhias kelip bintang pujaan, memantulkan kilaunya pada samudra, indah..
Di sini sepi begitu menghujam, sangat. Tapi lihatlah, ini bukan hampa tak berujung. Ada pesan samudra yang terbawa angin semilir. Ada bintang yang mengerlingkan kilaunya. Ada sang naga yang menghapus semua diam dengan kibasan dan dengusannya. Dan lihatlah, ombakpun ikut membisikkan katakata kedamaian. Bukankah ini indah?
Memang semua tampak begitu monoton. Tapi bukankah langit tak selalu melukiskan awan, bulan, dan bintang yang sama? Tapi bukankah laut selalu bergelora? Dan bukankah bintang itu tak pernah diam bercahaya tapi berkelip?
Saat kau merasa sepi dan hampa, perhatikanlah..
Tak akan ada hampa atau sepi, saat kau mau melihat dunia..
Dunia itu hidup dan bergerak, meski kau diam tak bernafas sekalipun..
Dan lihatlah dunia, saat kau merasa hampa. Maka dunia itu akan menerbangkan kehampaan itu dan menyelimutimu dengan keindahan dan kedamaian..
Lihatlah..
Dan rasakanlah keindahan itu... :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar