Kata menjadi penghibur lidah yang kelu, menjadi benang pada jarum bernama bahasa, sebentuk aliran dari perasaan...

Senin, 17 Mei 2010

Mati Saja

Aku mengaisngais tanah ketenangan
Mencaricari harta kebahagian
Kosong, hampa, tanpa apaapa
Panik berselubung diam..
Termangu menatap kedua tangan yang penuh tanah basah, kotor..
Tapi inilah tanah ketenangan
Dengan kasar ku usapusapkan tubuhku
Agar menyatu dan meresap pada ketenangan tanah
Perih, luka, kehampaan yg menyiksaku
Aku semakin panik
Kubenamkan kepalaku, kugesesekan wajahku pada tanah itu
Kenapa??
Kenapa kegalauan ini malah semakin menyiksa??
Wahai tanah ketenangan,,
Dimana ketenangan yang kau tawarkan???
Manaaa????
Aku lelah
Aku rapuh
Aku galau
Dan mulai menggila..
Akal itu pun mulai merasuk...
"MATI SAJA"
Karena sesat dalam tekanan ini
Bagai sebuah aroma kematian...

3 komentar:

  1. tanpa sadar,
    kata2 itu telah menguburmu dengan sendirinya
    mengusir cahaya hatimu pergi
    dan seolah berkata jangan kembali

    bagaimana jika
    kau memanggilnya kembali
    dan berkata tetaplah di sini?

    BalasHapus
  2. ya, kesadaran seakan tak lagi menjadi milikku
    saat gelap berpusar di pusat kepala
    gelap yang menekan kencang
    gelap yang kucipta sendiri oleh ketidakmampuan menghadap realita
    Mungkin itu bukanlah hal bermakna
    tapi itu bisa menjadi pisau tajam bagiku...
    Hanya saat aku kembali mengingat-Nya..
    Ya, Dia yang memberiku segala..
    Aku puun mengais cahaya-Nya, menemukan terang-Nya..
    Kurasa,,
    Kurasa gelap itu memang harus ada..
    Agar kita bisa melihat indahnya terang.. :)

    Terimakasih..
    Katakatamu adalah penghantar-Nya..
    Cara kuperoleh siraman cahaya dari-Nya..
    Satu cara..
    Kamu..
    Makasiiih... :)

    BalasHapus
  3. dengan begitu kau kembali menemukannya
    ya, dia,
    dirimu,
    dirimu yang tak termakan oleh pekatnya kegelapan
    aku salut
    dan aku bangga

    selamat untukmu

    BalasHapus